Rabu, 22 Januari 2014

IDENTITAS ETNIK


II.1 PENGERTIAN IDENTITAS ETNIK
Identitas Etnik adalah Individu-individu mempunyai banyak identitas yang berkaitan dengan peranan-peranan khusus. Salah satu identitas-identitas ini berhubungan dengan latar belakang etnik mereka yang di anggap sebagai inti diri mereka. Jadi identistas etnik suatu ciri khas yang dimiliki oleh sekelompok orang yang dianggap sebagai inti dari diri mereka.
Pengertian Etnik adalah sebuah himpunan manusia (Subkelompok manusia) yang di persatukan oleh suatu kesadaran atas kesamaan sebuah kultur atau subkultur tertentu, atau karena kesamaan ras, agama, asal usul bangsa, bahkan peran atau fungsi tertentu. Karena etnik berkesinambungan dengan suatu budaya. Dan kebudayaan terbentuk dari sekumpulan orang yang menghasilkan suatu budaya yang terjadi dari kebiasaan para anggotanya.

 Pendekatan Perubahan Identitas Etnik 
Ada beberapa alasan mengapa perubahan identitas etnik suatu kelompok dapat terjadi, yaitu :
1.Pendekatan Objektif (Psikologi sosial/struktural)
·  Asumsi dasar ilmu alam: Ada keteraturan dalam realitas sosial juga dalam perilaku manusia. Mencari hukum umum dengan menjelaskan variabel mana menyebabkan atau berkolelasi dengan variabel lainnya.
·  Pendekatan ini cenderung etnosentrik
·  Kaum objektivitas mengklaim bahwa tanda-tanda budayaa seperti ras secara dekat berhubungan, kalaupun tak terpisahkan dengan etnik.

2.Pendekatan Subjektif (Fenomenologi)
·  Kaum subjektif memandang bahwa identitas etnik mengemuka lewat tanda-tanda budaya, mereka menekankan diri, dan juga perasaan identitas yang berkaitan dengan kelompok dan pengakuannya oleh orang-orang lain.
·  Identitas etnik sebagai dinamik, cair dan situasional.

Pendekatan deterministik ini telah dikritik sebagai terlalu simplistik, karena proses perubahan identitas etnik pada kelompok-kelompok etnik, sebenarnya, sirkuler, interaksional dan dinamik, melibatkan konflik-konflik dalam kelompok etnis.
II.2 PENDEKATAN OBJEKTIF
Yakni kelompok yang bisa dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya berdasarkan ciri-ciri budayanya seperti bahasa, agama. Pendekatan objektif didasarkan suatu anggapan yang menyerupai anggapan dasar dalam ilmu alam yakni adanya keteraturan dalam realitas sosial dan dalam perilaku manusia. Para penganutnya mencari hukum-hukum umum dengan menjelaskan variabel mana menyebabkan atau berkolerasi dengan variabel-variabel lainnya. Pendekatan objektif cenderung etnosentrik artinya setiap kelompok etnik atau ras memiliki semangat bahwa kelompoknya-lah yang paling superior atau lebih baik dibandingkan dengan kelompok etnik atau ras lainnya.
Bagi positivis, gagasan identitas etnik merupakan pendekatan operasional terhadap pertanyaan “Siapakah Aku?” seperti perspektif subjektif (fenomenologis), perspektif objektif tentang identitas etnik mungkin juga menghubungkan konsep identitas etnik dengan teori konsep-diri, namun cenderung menganggapnya sebagai deterministik alih-alih sebagai proses. Maka, pendekatan struktural terhadap diri (self) bergantung mutlak pada pengamatan “ilmiah” atas perilaku luar (overt behaviour). Pendekatan struktural berlawanan dengan psikologis sosial, dimana melihat kondisi dan perilaku manusia dari dalam diri dengan mengunakan logika matematis. Ia menolak gagasan-gagasan tentang jiwa, spirit, kemauan, intropeksi, kesadaran, subjektivitas, dan sebagainya. Karena konsep-konsep itu tidak dapat diamati secara kuantitatif. Kaum strukturalis berpendapat bahwa gagasan-gagasan tersebut “tidak ilmiah”. Pendekatan struktural menganggap bahwa diri bersifat struktural dalam arti bahwa ia ditentukan oleh kekuatan-kekuatan di luar individu.
Pendekatan struktural juga menganggap bahwa individu-individu mengecap (typify) diri mereka sendiri dan dicap oleh orang-orang lain dalam dunia sosial mereka berdasarkan peranan-peranan dan lokasi mereka dalam struktur sosial. Seorang individu boleh jadi secara simultan dicap sebagai orang Indonesia, orang Jawa, pria, profesor, dan sebagainya. Pentingnya masing-masing identitas ini bervariasi dalam setiap situasi sosial. Maka, pendekatan struktural lebih meminati hubungan-hubungan langsung antara struktur sosial dan citra etnik yang dimiliki orang-orang tentang diri mereka sendiri dan kurang memperhatikan dinamika psikologis identitas etnik mereka. Dengan kata lain, pendekatan struktural terhadap studi identitas etnik menganggap bahwa identitas etnik itu pasif dan statik, perilaku luarnya ditentukan faktor-faktor diluar individu.
Sedangkan pendekatan psikologi sosial berasumsi bahwa kehidupan dan perilaku individu tidak sendirian, individu ada didalam lingkungan sosial, oleh karena itu kepribadian individu dibentuk oleh kepribadian lingkungan sosial. Artinya faktor yang berasal dari luarlah yang lebih unggul dibandingkan dengan faktor internal. Beberapa prinsip pendekatan psikologis adalah apa yang kita sebut sebagai identitas individu merupakan ciptaan identitas sosial melalui interaksi dengan kelompok: disini terlihat bahwa identitas selalu bersifat ganda, sifat ganda itu karena kita hidup dalam banyak peran yang berbeda-beda (setiap orang mempunyai banyak peran yang berbeda-beda) maupun berbeda peran dengan peran orang lain.
Perbedaan itu kata Erik Erikson seorang pengikut Sigmund Freud bahwa identitas merupakan peta bagi pengembangan psikologis manusia, yaitu pengembangan identitas ego tatkala orang itu masih berusia muda. Dengan kata lain manusia dapat melakukan dramaturgi sesuai peran serta lingkungan dimana ia berada misalnya pengembangan identitas remaja menuju dewasa, ketika remaja identik dengan emosi yang tidak terkontrol, mudah tersinggung, serta labil dalam mengambil keputusan sedangkan identitas orang dewasa perkembangan psikologisnya ditandai dengan kematangan dalam berfikir serta bijak dalam mengambil keputusan. Dia menemukan bahwa pengembangan identitas itu tidaklah selalu  konsisten karena identitas sebagai peta atau wilayah psikologis secara terus menerus berubah dan berkembang secara bertahap, sementara itu perkembangan tersebut berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain, antara satu waktu dengan waktu yang lain. Bahkan, pengembangan dan perubahan identitas itu menjadi sangat cepat jika ada krisis atau kejadian penting yang mengancam. Acapkali krisis yang dihadapi manusia merupakan batu ujian dan bahkan mendorong interaksi antara identitas individu dan kelompok.
Jadi, pendekatan objektif itu yakni pendekatan struktural dan pendekatan psikologi-sosial terhadap identitas etnik yang berusaha mengukur pengaruh struktrur sosial terhadap identitas etnik subjek penelitian melalui peranan, sosialisasi, dan keanggotaan kelompok mereka. Para penganutnya memandang individu-individu sebagai produk-produk pasif dari kekuatan-kekuatan sosial. Pendekatan struktural menganggap bahwa perubahan pada identitas etnik, sebagaimana disebabkan kekuatan-kekuatan individu, menimbulkan perubahan-perubahan pada nilai-nilai, kepercayaan-kepercayaan, sikap-sikap dan perilaku etnik yang dapat diukur secara objektif dan dianalisis secara kuantitatif. Sedangkan pendekatan psikologi sosial berasumsi bahwa kehidupan dan perilaku individu tidak sendirian, individu ada didalam lingkungan sosial, sehingga identitas individu dibentuk oleh identitas lingkungan sosial dan menghasilkan peranan setiap individu berbeda sesuai dengan kondisi dan tempat ia berada.

II.3 PENDEKATAN SUBJEKTIF ( Fenomenologis )
            Pendekatan subyektif dalam kata lain sering dipahami sebagai pendekatan fenomenologis dalam arti merupakan tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara umum bergantung pada pengamatan manusia dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya maupun peristilahannya. Pendekatan ini memandang identitas etnik mengemukakan tanda-tanda budaya dalam suatu kaum untuk menekankan diri dan juga menjaga perasaan identitas yang berkaitan dengan pengakuannya oleh orang lain.
Pendekatan subyektif cenderung memandang manusia yang mereka amati sebagai aktif, dinamis, serta mampu melakukan perubahan lingkungan di sekeliling mereka, ini dikarenakan manusia berbeda dengan benda. Hal ini dimaksudkan bahwa benda bersifat mati dan tidak dapat bertindak, sedangkan manusia bersifat hidup dan bertindak dalam berbagai hal.
Fokus perhatian kaum subjektivis adalah bagian perilaku manusia yang disebut tindakan (action), seperti : gerakan tubuh, ucapan, suara, dll. Jadi jelas bahwa manusia berbeda dengan hewan, tumbuhan, benda, karena manusia mempunyai pikiran, kepercayaan, keinginan, niat, maksud, dan tujuan. Semua hal itu memberi makna kepada kehidupan dan tindakan mereka, dan membuat kehidupan dan tindakan tersebut dapat dijelaskan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh suatu kaum etnik untuk mengalami siklus perubahan identitas atau etnik,  pendekatan subjektif tidak akan mengukur pengaruh dan hubungan antar variabel sebagaimana dalam penelitian objektif, tetapi lebih kepada mengembangkan konsep, memberikan realitas ganda, menciptakan teori dasar (grounded theory), dan mengembangkan pemahaman. Sehingga penelitian yang menggunakan perspektif ini cenderung peneliti akan menjadikan dirinya sebagai bagian dari kebudayaan yang dia teliti, atau dengan kata lain peneliti bertindak sebagai partisipan karena dia akan masuk dalam suatu struktur kebudayaan tertentu dan harus mempelajari kebudayaan yang berada didalamnya. (Liliweri,2001:34)
Kekurangan dalam penelitian subyektif ini dimana penelliti akan menolak masukan variabel kebudayaan lain ke dalam kebudayaan yang sedang diteliti. Oleh karena itu, para peneliti yang menggunakan perspektif ini kerap kali mendapat kritik karena gambaran yang diberikan tentang kebudayaan yang ditelitinya terlalu sedikit. Pendekatan subjektif pun sering mengkritik peneliti yang menarik kesimpulan tentang suatu budaya tertentu berdasarkan ukuran-ukuran yang berlaku pada kebudayaan lain.
            Terdapat tiga tipe identitas Bengali India berdasarkan interaksi mereka dengan orang-orang Amerika, yaitu : mereka yang tidak memiliki hubungan yang signifikan di luar komunitas etnik mereka, mereka yang memiliki paling tidak hubungan pribadi yang signifikan dengan orang-orang Amerika tapi secara substansial tidak terlibat dalam kehidupan publik atau bermasyarakat, dan mereka yang memiliki kegiatan publik yang signifikan tetapi tanpa hubungan pribadi di luar komunitas etnik mereka yang memiliki kegiatan penting dalam kehidupan public dan hubungan pribadi, intern yang signifikan dengan orang-orang baru Amerika.
            Dari kesimpulan diatas terdapat bentuk-bentuk identifikasi dari suatu kelompok atau etnik yang sangat berbeda bahwa sebagian etnik bersifat statik dan mengabaikan kemungkinan-kemungkinan bahwa anggota-anggota etnik harus mengubah kategori mereka untuk menyesuaikan diri dengan situasi lingkungan dan perkembangan baru dari etnik tersebut.

 
II.4 MODEL-MODEL PERUBAHAN IDENTITAS ETNIK
Pada dasarnya identitas etnik muncul bila dua atau lebih kelompok etnik berhubungan. Pada masa lalu terdapat berbagai model tentang tabiat dan proses transformasi identitas etnik, terutama model akulturasi dan model asimilasi yang kadang-kadang dipertukarkan. Asimilasi cenderung sejajar dengan hilangnya etnisitas, sementara pluralisme budaya cenderung menonjolkan kesinambungan etnisitas (Kim, 1988:30). Asimilasi merujuk pada  “ sejauh mana suatu kelompok yang semula khas telah kehilangan identitas subjektifnya dan telah terserap kedalam struktur sosial suatu kelompok lain. Memang ,akulturasi adalah suatu prasyarat, atau sekurang-kurangnya seiring dengan asimilasi karena bagaimana mungkin seseorang kehilangan perasaan khasnya dan sepenuhnya diterima suatu kelompok lain kecuali bila ia lancar dalam bahasa dan budaya kelompok penerima
Konsep akulturasi dan konsep asimilasi bermula dari dan berkembang di Amerika Serikat. Perbedaan diantara dua proses itu adalah bahwa akulturasi merupakan proses dua arah, sedangkan asimilasi merupakan proses satu arah. Sejak definisi yang autoritatif muncul, banyak ahli mengemukakan definisi akulturasi. Banyak definisi mengandung interpretasi serupa, yaitu bahwa akulturasi adalah suatu bentuk perubahan budaya yang diakibatkan oleh kontak kelompok- kelompok budaya, yang menekankan penerimaan pola-pola dan budaya baru dan ciri-ciri masyarakat pribumi oleh kelompok- kelompok minoritas.
Sebuah definisi asimilasi di kemukakan oleh Park dan Burgess :
Asimilasi adalah suatu proses interprenetasi dan fusi. Melalui proses ini orang- orang dan kelompok- kelompok memperoleh memori- memori, sentimen- sentimen dan sikap- sikap orang- orang atas kelompok- kelompok lainnya, dengan berbagai pengalaman dan sejarah, tergabung dengan mereka dalam suatu kehidupan budaya yang sama (1969: 735).
Di Amerika Serikat khususnya, ada gagasan populer bahwa asimilasi merupakan akibat kelompok- kelompok minoritas memasuki budaya dominan dan bahwa kelompok- kelompok minoritas secara bertahap akan kehilangan identitas etnik mereka yang membedakan mereka dari kelompok dominan. Karena beberapa kelompok minoritas yang sudah mulai terpengaruh dan tergeser dengan budaya mayoritas yang sangat diperlihat jelaskan di masyarakat.

Dalam hal ini asimilasi menghasilkan dua akibat :
1)   Kelompok minoritas kehilangan keunikannya dan menyerupai kelompok mayoritas.  Dalam konteks itu kelompok mayoritas tidak berubah.
2)   Kelompok etnik dan kelompok mayoritas bercampur secara homogen. Masing- masing kelompok kehilangan keunikannya, lalu muncul suatu produk unik lainnya, suatu proses yang disebut Belanga Pencampuran (Melting Pot) (Jiobu, 1988:6).

Sebenarnya hal yang seharusnya dilakukan adalah mempertahankan budaya masing- masing, mau itu dari kelompok mayoritas maupun minoritas karena menekan kebudayaan minoritas akan sangat disayangkan. Kelompok mayoritas pun jangn bercampur begitu saja hingga kehilangan keunikannya, semakin banyak dan beragamnya keunikan budaya makan akan semakin menarik dan dapat saling menghargai budaya dari masing – masing tempat.


Pada tahun 1920-an banyak kelompok etnik yang datang ke Amerika Serikat sebagai imigran, kelompok- kelompok etnik tersebut tetap memelihara keunikan mereka masing- masing. Namun tak lama kemudian, muncullah gagasan pluralisme budaya yang menentang gagasan asimilasi. Pluralisme budaya menunjukkan, adalah tidak benar bahwa kelompok- kelompok minoritas akan berasimilasi dengan budaya dominan.

Selasa, 07 Januari 2014

Psikologi Umum Dan Psikologi Pendidikan

                                                PEMBAHASAN

A.  Pengertian Psikologi
Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya.  Menurut asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.

B.Sejarah Psikologi

Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, psikologi melalui sebuah perjalanan panjang. Bahkan sebelum Wundt mendeklarasikan laboratoriumnya tahun 1879, yang dipandang sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu. pandangan tentang manusia dapat ditelusuri jauh ke masa Yunani kuno.Psikologi sendiri sebenarnya telah dikenal sejak jaman Aristoteles sebagai ilmu jiwa, yaitu ilmu untuk kekuatan hidup ( levens beginsel). Aristoteles memandang ilmu jiwa sebagai ilmu yang mempelajari gejala - gejala kehidupan. Jiwa adalah unsur kehidupan (Anima), karena itu tiap - tiap makhluk hidup mempunyai jiwa. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual di Eropa, dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di benua Amerika.

C. Metode Psikologi

Beberapa metodologi dalam psikologi, di antaranya sebagai berikut :
  1. Metodologi Eksperimental
Cara ini dilakukan biasanya di dalam laboratorium dengan mengadakan berbagai eksperimen. Peneliti mempunyai kontrol sepenuhnya terhadap jalannya suatu eksperimen. Yaitu menentukan akan melakukan apa pada sesuatu yang akan ditelitinya, kapan akan melakukan penelitian, seberapa sering melakukan penelitiannya, dan sebagainya. Pada metode eksperimental, maka sifat subjektivitas dari metode introspeksi akan dapat diatasi. Pada metode instrospeksi murni hanya diri peneliti yang menjadi objek. Tetapi pada instrospeksi eksperimental jumlah subjek banyak, yaitu orang - orang yang dieksperimentasi itu. Dengan luasnya atau banyaknya subjek penelitian maka hasil yang didapatkan akan lebih objektif.
  1. Observasi Ilmiah
Pada pengamatan ilmiah, suatu hal pada situasi-situasi yang ditimbulkan tidak dengan sengaja. Melainkan dengan proses ilmiah dan secara spontan. Observasi alamiah ini dapat diterapkan pula pada tingkah laku yang lain, misalnya saja : tingkah laku orang-orang yang berada di toko serba ada, tingkah laku pengendara kendaraan bermotor dijalan raya, tingkah laku anak yang sedang bermain, perilaku orang dalam bencana alam, dan sebagainya.
  1. Sejarah Kehidupan (Metode Biografi)
Sejarah kehidupan seseorang dapat merupakan sumber data yang penting untuk lebih mengetahui “jiwa” orang yang bersangkutan, misalnya dari cerita ibunya, seorang anak yang tidak naik kelas mungkin diketahui bahwa dia bukannya kurang pandai tetapi minatnya sejak kecil memang dibidang musik sehingga dia tidak cukup serius untuk mengikuti pendidikan di sekolahnya. Dalam metode ini orang menguraikan tentang keadaaa, sikap - sikap ataupun sifat lain mengenai orang yang bersangkutan. Pada metode ini disamping mempunyai keuntungan juga mempunyai kelemahan, yaitu tidak jarang metode ini bersifat subjektif.
  1. Wawancara
Wawancara merupakan tanya jawab si pemeriksa dan orang yang diperiksa. Agar orang diperiksa itu dapat menemukan isi hatinya itu sendiri, pandangan-pandangannya, pendapatnya dan lain-lain sedemikian rupa sehingga orang yang mewawancarai dapat menggali semua informasi yang dibutuhkan.Baik angket atau interview keduanya mempunyai persamaan, tetapi berbeda dalam cara penyajiannya. Keuntungan interview dibandingkan dengan angket yaitu:
1.    Pada interview apabila terdapat hal yang kurang jelas maka dapat diperjelas
2.    interviwer(penanya) dapat menyesuaikan dengan suasana hati interviwee ( responden yang ditanyai)
3.    Terdapat interaksi langsung berupa face to facesehingga diharapkan dapat membina hubungan yang baik saat proses interview dilakukan.
5.    Angket
            Angket merupakan wawancara dalam bentuk tertulis. Semua pertanyaan telah di susun secara tertulis pada lembar-lembar pertanyaan itu, dan orang yang diwawancarai tinggal membaca pertanyaan yang diajukan, lalu menjawabnya secara tertulis pula. Jawaban-jawabannya akan dianalisis untuk mengetahui hal-hal yang diselidiki.
  1. Pemeriksaan Psikologi
Dalam bahasa populernya pemeriksaan psikologi disebut juga dengan psikotes Metode ini menggunakan alat-alat psikodiagnostik tertentu yang hanya dapat digunakan oleh para ahli yang benar-benar sudah terlatih. alat-alat itu dapat dipergunakan unntuk mengukur dan untuk mengetahui taraf kecerdasan seseorang, arah minat seseorang, sikap seseorang, struktur kepribadian seeorang, dan lain-lain dari orang yang diperiksa itu.
  1. Metode Analisis Karya
Dilakukan dengan cara menganalisis hasil karya seperti gambar - gambar, buku harian atau karangan yang telah dibuat. Hal ini karena karya dapat dianggap sebagai pencetus dari keadaan jiwa seseorang.
  1. Metode Statistik
Umumnya digunakan dengan cara mengumpulkan data atau materi dalam penelitian lalu mengadakan penganalisaan terhadap hasil; yang telah didapat.

D. Metode Psikologi Perkembangan

Pada Metode Psikologi Perkembangan memiliki 2 metode, yaitu metode umum dan metode khusus. pada metode umum ini pendekatan yang dipakai dengan pendekatan longitudinal, transversal, dan lintas budaya. Dari pendekatan ini terlihat adanya data yang diperoleh secara keseluruhan perkembangan atau hanya beberapa aspek saja dan bisa juga melihat dengan berbagai faktor dari bawaan dan lingkungan khususnya kebudayaan. Sedangkan pada metode khusus merupakan suatu metode yang akan diselidiki dengan suatu proses alat atau perhitungan yang cermat dan pasti. Dalam pendekatan ini dapat digunakan dengan pendekatan eksperimen dan pengamatan.

Psikologi kontemporer

Diawali pada abad ke 19, dimana saat itu berkembang 2 teori dalam menjelaskan tingkah laku, yaitu:
1.    Psikologi Fakultas 
Psikologi fakultas adalah doktrin abad 19 tentang adanya kekuatan mental bawaan, menurut teori ini, kemampuan psikologi terkotak-kotak dalam beberapa ‘fakultas’ yang meliputi berpikir, merasa, dan berkeinginan. Fakultas ini terbagi lagi menjadi beberapa subfakultas. Kita mengingat melalui subfakultas memori, pembayangan melalui subfakultas imaginer, dan sebagainya.
2.    Psikologi Asosiasi 
Bagian dari psikologi kontemporer abad 19 yang mempercayai bahwa proses psikologi pada dasarnya adalah asosiasi ide yaitu bahwa ide masuk melalui alat indera dan diasosiasikan berdasarkan prinsip-prinsip tertentu seperti kemiripan, kontras, dan kedekatan.

E. Psikologi Sebagai Ilmu Pengetahuan

Walaupun sejak dulu telah ada pemikiran tentang ilmu yang mempelajari manusia dalam kurun waktu bersamaan dengan adanya pemikiran tentang ilmu yang mempelajari alam, akan tetapi karena kerumitan dan kedinamisan manusia untuk dipahami, maka psikologi baru tercipta sebagai ilmu sejak akhir 1800-an yaitu sewaktu Wilhem Wundt mendirikan laboratorium psikologi pertama didunia.
Laboratorium Wundt
Pada tahun 1879 Wilhem Wundt mendirikan laboratorium Psikologi pertama di University of Leipzig, Jerman. Ditandai oleh berdirinya laboratorium ini, maka metode ilmiah untuk lebih mamahami manusia telah ditemukan walau tidak terlalu memadai. dengan berdirinya laboratorium ini pula, lengkaplah syarat psikologi untuk menjadi ilmu pengetahuan, sehingga tahun berdirinya laboratorium Wundt diakui pula sebagai tanggal berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan.
Berdirinya Aliran Psikoanalisa
Semenjak tahun 1890an sampai kematiannya di 1939, dokter berkebangsaan Austria bernama Sigmund Freud mengembangkan metode psikoterapi yang dikenal dengan nama psikoanalisis. Pemahaman Freud tentang pikiran didasarkan pada metode penafsiran, introspeksi, dan pengamatan klinis, serta terfokus pada menyelesaikan konflik alam bawah sadar, ketegangan mental, dan gangguan psikis lainnya.

Fungsi Psikologi Sebagai Ilmu

Psikologi memiliki tiga fungsi sebagai ilmu yaitu:
  • Menjelaskan, yaitu mampu menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasilnya penjelasan berupa deskripsi atau bahasan yang bersifat deskriptif
  • Memprediksikan, Yaitu mampu meramalkan atau memprediksikan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasil prediksi berupa prognosa, prediksi atau estimasi
  • Pengendalian, Yaitu mengendalikan tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Perwujudannya berupa tindakan yang sifatnya preventif atau pencegahan, intervensi atau treatment serta rehabilitasi atau perawatan.

Pendekatan Perilaku

Pendekatan perilaku, pada dasarnya tingkah laku adalah respon atas stimulus yang datang. Secara sederhana dapat digambarkan dalam model S - R atau suatu kaitan Stimulus - Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali.

Pendekatan kognitif

Pendekatan kognitif menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.

Pendekatan psikoanalisa

Pendekatan psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls, atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.

Pendekatan fenomenologi

Pendekatan fenomenologi ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.

F. Kajian Psikologi

Psikologi adalah ilmu yang luas dan ambisius, dilengkapi oleh biologi dan ilmu saraf pada perbatasannya dengan ilmu alam dan dilengkapi oleh sosiologi dan anthropologi pada perbatasannya dengan ilmu sosial. Beberapa kajian ilmu psikologi diantaranya adalah:
1. Psikologi perkembangan
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari perkembangan manusia dan faktor-faktor yang membentuk prilaku seseorang sejak lahir sampai lanjut usia. Psikologi perkembangan berkaitan erat dengan psikologi sosial, karena sebagian besar perkembangan terjadi dalam konteks adanya interaksi sosial. Dan juga berkaitan erat dengan psikologi kepribadian, karena perkembangan individu dapat membentuk kepribadian khas dari individu tersebut
2. Psikologi sosial
Bidang ini mempunyai 3 ruang lingkup, yaitu :
·       studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, misalnya : studi tentang persepsi, motivasi proses belajar, atribusi (sifat)
·       studi tentang proses-proses individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, perilaku meniru dan lain-lain
·       studi tentang interaksi kelompok, misalnya kepemimpinan, komunikasi hubungan kekuasaan, kerjasama dalam kelompok, dan persaingan.
3. Psikologi kepribadian
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, psikologi kepribadian berkaitan erat dengan psikologi perkembangan dan psikologi sosial, karena kepribadian adalah hasil dari perkembangan individu sejak masih kecil dan bagaimana cara individu itu sendiri dalam berinteraksi sosial dengan lingkungannya.
4. Psikologi kognitif
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari kemampuan kognisi, seperti: Persepsi, proses belajar, kemampuan memori, atensi, kemampuan bahasa dan emosi.

G. Wilayah Terapan Psikologi

Wilayah terapan psikologi adalah wilayah-wilayah dimana kajian psikologi dapat diterapkan. walaupun demikian, belum terbiasanya orang-orang Indonesia dengan spesialisasi membuat wilayah terapan ini rancu, misalnya, seorang ahli psikologi pendidikan mungkin saja bekerja pada HRD sebuah perusahaan, atau sebaliknya.
1. Psikologi sekolah
Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan kemampuan akademik, sosialisasi, dan emosi. Yang bertujuan untuk membentuk mind set anak
2. Psikologi industri dan organisasi
Psikologi industri memfokuskan pada menggembangan, mengevaluasi dan memprediksi kinerja suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh individu, sedangkan psikologi organisasi mempelajari bagaimana suatu organisasi memengaruhi dan berinteraksi dengan anggota-anggotanya
3. Psikologi kerekayasaan
Penerapan psikologi yang berkaitan dengan interaksi antara manusia dan mesin untuk meminimalisasikan kesalahan manusia ketika berhubungan dengan mesin (human error)
4. Psikologi klinis
Adalah bidang studi psikologi dan juga penerapan psikologi dalam memahami, mencegah dan memulihkan keadaan psikologis individu ke ambang normal.

Psikologi Pendidikan

A.  Pengertian
Pendidikan adalah disiplin ilmu yang membahas perilaku manusia, baik sebagai individu maupun kelompok dalam hubungannya dengan lingkungan. Pendidikan adalah proses menumbuhkembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran. Dengan demikian, psikologi pendidikan adalah disiplin psikologi yang berhubungan dengan masalah-masalah kependidikan. Psikologi pendidikan mencakup semua hal yang bersifat kependidikan terutama belajar, mengajar, dan belajar-mengajar. Objek riset dan kajiannya berupa siswa dan guru selaku peserta didik dan pendidik. Perkembangan psikologi pendidikan dipengaruhi aliran psikologi lain, seperti humanism, behaviorisme, dan psikologi kognitif. Manfaatnya adalah untuk membantu para guru dan calon guru dalam memahami proses dan masalah kependidikan serta mengatasi masalah tersebut dengan metode saintifik psikologis.
B.  Definisi Pendidikan Psikologi
Arthur S. Reber (Syah, 1997 / hal. 12) Psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut :
a. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas
b. Pengembangan dan pembaharuan kurikulum
c. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
d. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif
e. Penyenggaraan pendidikan keguruan

            Barlow (Syah, 1997 / hal. 12) Psikologi pendidikan adalah ...... a body of knowledge grounded in psychological research which provides a repertoire of resource to aid you in functioning more effectively in teaching learning process.
Psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas-tugas seorang guru dalam proses belajar mengajar secara efektif.
            Tardif (Syah, 1997 / hal. 13) Psikologi pendidikan adalah sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha kependidikan.
Witherington (Buchori dalam Syah, 1997 / hal. 13) Psikologi pendidikan sebagai “ A systematic study of process and factors involved in the education of human being. Psikologi pendidikan adalah studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia.
Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan. Psikologi pendidikan sebagai bagian integral dari disiplin ilmu psikologi berupaya menggunakan konsep atau prinsip-prinsip psikologis dalam memecahkan masalah-¬masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan. Kajian psikologi pendidikan lebih berfokus kepada kajian psikologis dalam memahami gejala-gejala psikologis peserta didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran di kelas.
Sedangkan menurut The American People of Encyclopedia bahwa psikologi pendidikan ialah cabang dari psikologi yang berusaha untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologis dalam memecahkan persoalan pendidikan.Dalam perkembangan lebih lanjut, psikologi pendidikan meluas menjadi berbagai kajian dalam mengkajitentang masalah-masalah yang dialami peserta didik dalam proses pendidikan dan pembela,jaran di kelas. Berbagai kajian tersebut misalnya kajian tentang psikologi belajar, psikologi mengajar, psikologi bimbingan dan penyuluhan, dan sebagainya. Kesemua bidang kajian dari psikologi pendidikan tersebut semuanya bermuara kepada usaha penciptaan proses belajar mengajar yang efisien dan efektif dalam proses pendidikan dan pembelajaran di kelas dengan menerapkan prinsip-prinsip psikologis dalam mengetahui dan memahami gejala aktivitas jiwa dan perilaku peserta didik dalam proses belajar mengajar di kelas.
C.  Psikologi Pendidikan Sebagai Ilmu
Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memilik kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
1. Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.
2.    Epistemologis;teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.
3.    Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.
D. Ruang Lingkup Kajian Psikologi Pendidikan
            Pada uraian tentang pengertian psikologi pendidikan telah tersirat pembahasan tentang ruang lingkup atau lapangan psikologi pendidikan, namun untuk mengkaji secara spesifik dan secara rinci tentang ruang lingku kajian psikologi pendidikan, maka perlu dilakuka pembahasan secara tersendiri dalam suatu topik khusus Soerjabrata (1974:6-13) mengemukakan ruang lingkup bidang kajian psikologi pendidikan dilihat dari segi situasi dan proses pendidikan dengan anak didik sebagai pusatnya yaitu kajian psikologi tentang siswa dalam situasi pendidikan dalam peninjauan statis dan dinamis serta kajia hal-hal lain yang erat kaitannya dengan situasi dan prose pendidikan di kelas.
            Dalam peninjauan secara statis, kajian psikolog tentang siswa dalam situasi pendidikan mencakup kajia tentang gejala-gejala jiwa atau aktivitas dan tingkah laku yang umum yang terdapat pada manusia umumnya, yaitu perhatian, pengamatan, tanggapan, ingatan, fantasi, berfikir sikap, minat, motivasi, inteligensi, dan sebagainya dan kajian tentang perbedaan-perbedaan individual antar individu-siswa yang mencakup perbedaan dari segi kepribadian, inteligensi, bakat, minat, dan sebagainya. "Sedangkan dalam peninjauan secara dinamis, yaitu mencakup kajian psikologi tentang individu siswa dalam proses pendidikan, yakni perubahan tingkah laku dan cara¬ cara penilaiannya di dalam pendidikan yang mencakup:
(1) perubahan perilaku karena pertumbuhan dan perkembangan; atau karena peserta didik mengalami proses pematangan dan pendewasaan,
(2) perubahan perilaku karena belajar yang merupakan faktor terpenting dalam proses pendidikan dan pembelajaran,
(3) cara-cara mengukur atau mengevaluasi pencapaian karena perubahan-perubahan tersebut, khususnya karena belajar (La Sulo, 1990:16).
             Selain itu, ruang lingkup kajian psikologi pendidikan juga mencakup kajian-kajian tentang hal-hal lain yang erat kaitannya dengan situasi dan proses pendidikan, yaitu kajian p aentang bimbingan dan konseling, kajian psikologis terhadap individu yang mengalami penyimpangan psikis (jiwa), sosial, dan fisik, kajian tentang implikasi dari prinsip pendidikan 3 seumur hidup yang menyatakan bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada sistem persekolahan tetapi pendidikan dapat dilakukan di luar sistem persekolahan, misalnya pendidikan untuk orang dewasa, dan kajian psikologis tentang bahan pengajaran yang seharusnya dipilih dan diorganisasikan sedemikian rupa agar dapat diserap oleh peserta didik. Interaksi psikologis dalam proses belajar mengajar antara peserta didik dengan guru sebagai pendidik dan pengajar di kelas, juga menjadi objek kajian dari psikologi pendidikan. Dengan kata lain, ruang lingkup ajian dari psikologi pendidikan ialah mencakup semua penerapan prinsip-prinsip psikologis dalam proses pendidikan dan pembelajaran peserta didik di kelas di berbagai institusi pendidikan, baik di lembaga pendidikan formal (di lingkungan sekolah), non formal (di lingkungan masyarakat), dan informal (di lingkungan keluarga).
            Dalam membahas tentang ruang lingkup dari psikologi pendidikan, juga dibahas tentang pusat perhatian dari psikologi pendidikan sebagai disiplin ilmu yang merupakan bagian integral dari psikologi umum. Suardiman (1988:6) mengemukakan bahwa ada tiga elemen yang menjadi pusat perhatian dalam pendidikan yang juga menjadi pusat perhatian oleh para ahli psikologi pendidikan dan para guru, yaitu anak didik, proses belajar, dan sekilas" belajar. Ketiga elemen ini saling berkaitan selalu sama lain. Peserta didik merupakan elemen yang terpentin diantara elemen yang lain (termasuk elemen situasi belaja dan elemen proses belajar). Ini bukan berarti bahwa faktor manusia (peserta didik) lebih penting dari faktor prose belajar dan situasi belajar, tetapi yang jelas tanpa hadirny faktor peserta didik tidak mungkin akan terjadi peristiwa belajar atau interaksi belajar mengajar dalam lembaga pendidikan formal, non formal, dan informal. Tanpa kehadiran peserta didik di kelas di suatu lembaga pendidikan tidak mungkin akan ada proses pembelajaran karena peserta didik merupakan objek dari proses pendidikan dan pembelajaran di kelas. Peserta didik diibaratkan seperti pembeli dalam suatu proses penjualan pasar yang akan membeli (menerima) ilmu pengetahua dari guru sebagai transformator pengetahuan (penjual kepada peserta didik yang berperan sebagai manusia yan belum dewasa untuk didewasakan. Proses pembelajaran sebagai elemen yang menjadi pusat perhatian dari psikologi pendidikan, merupakan elemen penentu keberhasilan proses pendidikan. Tanpa ada interaksi yang timbal balik antara guru sebagai pendidik, dan pengajar dengan peserta didik sebagai objek yang dididik dan diajar tidak mungkin akan terjadi proses ; pembelajaran di kelas atau di tempat belajar tertentu. . Melalui proses pembelajaran yang interaktif antara guru dan peserta didik akan terjadi perubahan perilaku kepada peserta didik yang ditandai dengan gejala peserta didik menjadi tahu terhadap materi pelajaran yang dipelajarinya dari tidak tahu pada waktu sebelum mempelajari materi pelajaran tertentu.
            Gejala lain dari terjadinya perubahan perilaku pada peserta didik, yaitu peserta didik memperoleh keterampilan tertentu seperti keterampilan dalam berbicara, berdiskusi, bergaul dan berteman, dan keterampilan lain yang membutuhkan aktivitas sensorik dan motorik dan perubahan dari aspek sikap (afektif), yaitu dari bersikap kurang baik atau kurang positif terhadap guru, orangtua, masyarakat, dan pihak terkait lainnya menjadi bersikap positif terhadap pihak-pihak tersebut sebagai buah atau hasil dari proses pendidikan yang berkualitas. Perubahan dari segi perilaku yang lain berupa perilaku peserta didik dari tidak disiplin dalam hidup menjadi disiplin (termasuk disiplin dalam melakukan aktivitas belajar), dari penampilan dalam berpakaian tidak rapi menjadi rapi dan bersih, dari beperilaku kurang santun menjadi sopan dan santun, dan berbagai aspek pengetahuan (kognitif), afektif (sikap), dan keterampilan (psikomotorik) sebagai buah dari hasil proses pendidikan dan pembelajaran di setting (tempat) belajar.
            Slameto (1988:68) menyatakan bahwa agar proses pembelajaran di kelas dapat maksimal dan optimal, maka hubungan antara guru dengan peserta didik dan hubungan peserta didik dengan sesama peserta didik yang lain harus timbal balik dan komunikatif satu sama lainnya. Proses pembelajaran hanya dapat terjadi jika antara guru dengan siswa terjadi komunikasi dan interaksi timbal balik yang edukatif. Jadi proses pembelajaran di kelas dipengaruhi oleh hubungan yang ada dalam proses pembelajaran itu sendiri. Jadi cara belajar siswa juga dipengaruhi oleh relasi siswa dengan gurunya. Hubungan guru dengan siswa sebagai peserta didik yang tercipta dengan baik, maka siswa akan senang kepada gurunya dan juga akan menyukai materi pelajaran yang diajarkan oleh gurunya sehingga siswa dapat menguasai materi pelajaran dengan baik. Sebaliknya, jika hubung guru dengan siswa kurang komunikatif dan harmonis, siswa akan membenci atau tidak senang kepada gurun dan menyebabkan siswa tidak senang menerima pelajar dari guru tersebut, akibatnya siswa tidak sukses bela dalam mata pelajaran tersebut.
            Guru yang kurang komunikatif dan edukatif dalam berinteraksi dengan siswanya, akan menyebabkan proses pembelajaran di kelas berjalan tidak optimal dan maksim Selain itu, siswa akan menjauhkan diri dari guru sehing siswa tersebut tidak dapat aktif dalam mengikuti pro; belajar mengajar di kelas. Oleh karena itu, para calon guru dan para guru yang telah mengajar harus menguasai pengetahuan tentang didaktik dan metodik pembelajara, misalnya menguasai dan menerapkan pengetahuan tentang dinamika kegiatan dalam strategi belajar mengajar, interal dan motivasi belajar mengajar, dan berbagai pendekat, dalam proses belajar mengajar. Situasi belajar juga merupakan elemen penting yang berkontribusi positif terhadap terciptanya proses pembelajaran. Situasi belajar menunjuk kepada lingkung dimana proses belajar itu terjadi. ruang kelas, ruang perpustakaan, dan ruang laboratorium merupakan lingkung belajar yang sangat mempengaruhi situasi belajar di tempat belajar tersebut. Kondisi lingkungan di ruang kelas, di ruang perpustakaan, dan di ruang laboratorium sangat mempengaruhi kesuksesan belajar bagi peserta didik dan kesuksesan mengajar bagi guru.
            Ruang kelas, perpustakaan, dan ruang laboratorium yang memiliki fasilitas belajar yang memadai, kondisinya tenang, sirkulasi udara yang lancar, dan cukup luas untuk menampung jumlah siswa yang ideal, la merupakan situasi belajar menyenangkan yang dapat membangkitkan minat dan motivasi belajar peserta dalam belajar dan minat dan motivasi mengajar bagi guru. Situasi belajar menunjuk kepada suatu faktor atau kondisi yang mempengaruhi siswa atau proses belajar. Guru merupakan satu faktor dalam situasi belajar di samping situasi udara, penerangan, komposi tempat duduk, dansebagainya (Suardiman, 1988:7).
             Sikap guru, semangat kelas, sikap masyarakat, dan suasana perasaan di sekolah juga merupakan faktor yang mempengaruhi situasi belajar di tempat belajar yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas proses dan hasil pembelajaran. Untuk dapat menjadi guru yang profesional dalam mendidik dan mengajar peserta didik melalui proses ruang pembelajaran di kelas, maka selain harus memperhatikan ketiga elemen pokok yang menjadi pusat perhatian dari psikologi pendidikan tersebut di atas, juga harus memperhatikan dan menguasai pengetahuan tentang didaktik metodik pengajaran dan hall lain yang terkait dengan masalah peserta didik. Pengetahuan didaktik metodik pengajaran dan hal lain yang terkait dengan masalah peserta didik, misalnya pengetahuan tentang gejala aktivitas umum jiwa peserta didik, kepribadian, inteligensi, dan bakat peserta didik, perkembangan anak dan perkembangan remaja sebagai subjek didik, belajar dan permasalahannya, teori¬teori belajar, interaksi belajar mengajar di kelas dan permasalahannya, keterkaitan perilaku guru terhadap dinamika kelas, pembinaan disiplin di dalam kelas, motivasi belajar dan permasalahannya, strategi belajar mengajar manajemen kelas untuk interaksi belajar mengajar, dan masalah-masalah khusus dalam pendidikan dan pengajaran.
     Namun menurut Sumadi Suryobroto ( 1987 ) Ruang Lingkup psikologi pendidikan meliputi :
• Pengetahuan tentang psikologi pendidikan : pengertian ruang lingkup, tujuan mempelajari dan sejarah munculnya psikologi pendidikan
• Pembawaaan
• Lingkungan fisik dan psikologis
• Perkembangan siswa
• Proses – proses tingkah laku
• Hakekat dan ruang lingkup belajar
• Faktor yang mempengaruhi belajar
• Hukum dan teori belajar
• Pengukuran pendidikan
• Aspek praktis pengukuran pendidikan
• Transfer belajar
• Ilmu statistik dasar
• Kesehatan mental
• Pendidikan membentuk watak / kepribadian
• Kurikulum pendidikan sekolah dasar
• Kurikulum pendidikan sekolah menengah




                                         DAFTAR PUSTAKA

Santrock, W John. 2004. Educational Psychology: 2nd Edition. McGraw-Hill Company, inc.

http://ppiasep.blogspot.com/2010/10/ruang-linikgkup-dan-pengertiann.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi